Kita terbiasa membuat banyak rencana untuk keluarga.
Menyiapkan pendidikan anak.
Membeli rumah.
Merencanakan ibadah.
Membangun usaha.
Menyiapkan hari tua.
Namun, di tengah berbagai rencana tersebut, ada satu bagian yang terkadang terlewat: bagaimana jika sesuatu yang tidak direncanakan terjadi?
Sakit yang membutuhkan biaya besar. Penghasilan yang tiba-tiba berhenti. Kendaraan atau rumah mengalami kerusakan. Bahkan kondisi ketika pencari nafkah utama tidak lagi dapat menjalankan perannya seperti sebelumnya.
Kita tentu berharap hal-hal tersebut tidak terjadi. Tetapi mempersiapkannya bukan berarti hidup dalam kekhawatiran.
Justru dengan mengenali risiko sejak awal, kita sedang berusaha menjaga agar keluarga tetap memiliki ruang untuk melanjutkan hidup dan rencananya ketika keadaan berubah.
Melindungi Keluarga Juga Bagian dari Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan sering kali identik dengan menabung dan mengembangkan dana.
Padahal, ada tiga hal yang sama pentingnya:
menghasilkan, mengembangkan, dan melindungi.
Kita bekerja untuk menghasilkan penghasilan. Kita menyisihkan sebagian untuk kebutuhan dan tujuan masa depan. Tetapi apa yang sudah dibangun juga perlu dijaga dari risiko yang dapat mengubah kondisi keuangan secara tiba-tiba.
QS. An-Nisa ayat 9 mengingatkan tentang kekhawatiran meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah dan pentingnya bertakwa serta berkata dengan benar.
Dalam konteks perencanaan keluarga, ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa memikirkan keberlangsungan hidup orang-orang yang kita sayangi adalah bagian penting dari tanggung jawab.
Bukan hanya memikirkan kebutuhan mereka hari ini, tetapi juga mempersiapkan kemampuan keluarga menghadapi hari ketika keadaan mungkin tidak berjalan sesuai rencana.
Mulailah dengan memetakan beberapa risiko utama.
1. Petakan Risiko Kesehatan
Kesehatan adalah salah satu aset penting dalam kehidupan.
Ketika kondisi kesehatan berubah, dampaknya tidak selalu berhenti pada biaya pengobatan. Bisa ada biaya pemeriksaan, obat, perawatan, transportasi, hingga berkurangnya kemampuan untuk bekerja.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
Tujuannya bukan menghitung semua kemungkinan buruk.
Tujuannya adalah memastikan satu kondisi kesehatan tidak langsung menghabiskan seluruh dana yang sebelumnya dipersiapkan untuk kebutuhan lain.
2. Petakan Risiko Hilangnya Penghasilan
Bagi banyak keluarga, penghasilan bulanan menjadi penopang hampir seluruh kebutuhan.
Dari penghasilan itulah biaya makan, tempat tinggal, pendidikan, cicilan, transportasi hingga tabungan masa depan dipenuhi.
Karena itu, coba bayangkan satu kondisi sederhana:
Jika penghasilan utama berhenti bulan depan, berapa lama keluarga dapat memenuhi kebutuhan tanpa berutang?
Satu bulan?
Tiga bulan?
Enam bulan?
Pertanyaan ini membantu kita mengetahui seberapa kuat fondasi keuangan yang dimiliki saat ini.
Mulailah mencatat kebutuhan pokok bulanan dan tentukan berapa dana yang perlu tersedia apabila terjadi kehilangan penghasilan untuk sementara.
Dana darurat dapat menjadi lapisan pertama yang membantu keluarga memiliki waktu untuk beradaptasi tanpa harus langsung mengorbankan seluruh tabungan jangka panjang.
3. Kenali Aset yang Penting bagi Keluarga
Tidak semua aset memiliki fungsi yang sama.
Ada aset yang sekadar memiliki nilai. Ada pula aset yang jika hilang atau rusak dapat langsung mengganggu aktivitas dan penghasilan keluarga.
Misalnya:
Coba petakan mana yang paling penting dan apa dampaknya jika aset tersebut tidak lagi dapat digunakan.
Dari sini, Anda dapat mulai menentukan mana yang perlu memiliki cadangan dana, perlindungan, atau strategi penggantian.
4. Jangan Mengandalkan Satu Lapisan Perlindungan
Perlindungan keuangan tidak harus berasal dari satu instrumen.
Kita dapat membangunnya secara bertahap.
Lapisan pertama: arus kas yang sehat.
Pastikan kebutuhan rutin tidak selalu menghabiskan seluruh penghasilan.
Lapisan kedua: dana darurat.
Siapkan dana yang dapat digunakan ketika muncul kebutuhan mendesak.
Lapisan ketiga: perlindungan.
Pertimbangkan perlindungan untuk risiko dengan dampak finansial yang terlalu besar apabila harus ditanggung sendiri.
Lapisan keempat: aset dan dana jangka panjang.
Pisahkan dana untuk pendidikan, hari tua, ibadah, atau tujuan keluarga lainnya agar tidak terus digunakan untuk menghadapi kebutuhan mendadak.
Semakin jelas fungsi setiap dana, semakin kecil kemungkinan seluruh rencana keuangan harus dikorbankan ketika satu risiko muncul.
Mengenal Prinsip Perlindungan Syariah
Bagi Teman Hijra yang ingin menjalankan perencanaan keuangan sesuai prinsip syariah, mekanisme perlindungan juga perlu dipahami dari sisi akad dan cara kerjanya.
DSN-MUI menerbitkan Fatwa No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah sebagai salah satu landasan mengenai penyelenggaraan perlindungan berdasarkan prinsip syariah.
Dalam konsep asuransi syariah, prinsip pengelolaan risiko diarahkan pada semangat saling menolong dan saling melindungi berdasarkan prinsip syariah. Prinsip saling menolong dan melindungi tersebut juga tercermin dalam definisi usaha asuransi syariah pada ketentuan OJK.
Artinya, perlindungan tidak semata-mata dipandang sebagai transaksi untuk memperoleh manfaat ketika musibah terjadi.
Ada semangat ta’awun, yaitu saling membantu menghadapi risiko bersama.
Karena itu, ketika mempertimbangkan produk perlindungan syariah, jangan hanya melihat besarnya manfaat yang ditawarkan.
Pahami juga:
Semakin kita memahami cara kerjanya, semakin sadar keputusan yang dapat kita ambil.
Tidak Harus Menyiapkan Semuanya Sekaligus
Melihat seluruh kemungkinan risiko terkadang membuat perencanaan keuangan terasa berat.
Dana darurat belum cukup.
Perlindungan belum lengkap.
Masih ada cicilan.
Tabungan pendidikan juga perlu disiapkan.
Tidak semuanya harus selesai hari ini.
Mulailah dari risiko yang memiliki dampak terbesar terhadap keluarga.
Misalnya, jika keluarga sangat bergantung pada satu sumber penghasilan, prioritaskan membangun dana darurat dan perlindungan terhadap risiko yang dapat menghentikan penghasilan tersebut.
Jika sudah memiliki keluarga dan anak, hitung kebutuhan dasar yang tetap harus tersedia apabila terjadi perubahan pada kondisi pencari nafkah.
Setelah satu lapisan mulai terbentuk, lanjutkan ke lapisan berikutnya.
Sedikit demi sedikit, fondasi keuangan keluarga akan semakin kuat.
Checklist Sederhana untuk Keluarga
Luangkan waktu bersama pasangan atau keluarga untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut:
Kesehatan
Apakah kami sudah menyiapkan dana untuk kebutuhan kesehatan yang tidak terduga?
Penghasilan
Berapa lama keluarga dapat bertahan apabila sumber penghasilan utama berhenti?
Dana darurat
Apakah dana darurat sudah dipisahkan dari dana kebutuhan sehari-hari?
Aset penting
Aset mana yang paling penting untuk kehidupan dan sumber penghasilan keluarga?
Perlindungan
Risiko mana yang terlalu besar jika harus kami tanggung sendiri?
Tujuan masa depan
Apakah dana pendidikan, ibadah, rumah, dan tujuan lainnya sudah dipisahkan dari dana darurat?
Tidak perlu mendapatkan jawaban sempurna untuk semuanya.
Yang penting, kita mulai mengetahuinya.
Menjaga Hari Ini, Mempersiapkan Hari Esok
Melindungi keluarga bukan berarti kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi.
Kita hanya sedang melakukan bagian yang dapat kita ikhtiarkan hari ini.
Menjaga arus kas.
Membangun dana darurat.
Memetakan risiko.
Memahami pilihan perlindungan.
Dan memisahkan dana sesuai tujuan.
Karena rasa aman dalam keuangan tidak selalu datang dari memiliki dana sebanyak-banyaknya.
Rasa aman dapat tumbuh ketika kita memahami kondisi keuangan sendiri, memiliki cadangan ketika diperlukan, dan mengetahui bahwa setiap tujuan telah dipersiapkan pada tempatnya.
Mulailah membangun pengelolaan keuangan yang lebih tertata bersama Hijra Bank. Pisahkan dana untuk kebutuhan hari ini, dana berjaga-jaga, dan rencana masa depan sesuai kebutuhanmu.
Karena menjaga amanah harta bukan hanya tentang bagaimana kita mengembangkannya.
Tetapi juga tentang bagaimana kita menjaganya agar keluarga tetap dapat melanjutkan rencana, apa pun perubahan yang datang.
Rujukan:
Al-Qur’an, QS. An-Nisa: 9, Qur’an Kementerian Agama RI. Fatwa DSN-MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
